“Hebat yang Tak Sama” oleh Dhea Fathiyyah Nahdah

Hebat yang Tak Sama

Tegas berkata “akulah manusia”

Mengambil keputusan dengan tenang

Sedangkan hati dan pikirannya berkobar

Bertanya “apakah ini benar?”

 

 

Selalu bersikap tegar dan membusungkan dada

Berkata “aku siap hari ini”

Sedangkan hari kemarin tak kunjung selesai

Lalu pada akhirnya mengorbankan hati dan pikiran

 

 

Sebenarnya, hal apa yang aku cari?

Segala hal berani mencoba tanpa tahu untuk apa

Berdalih ‘mencoba saja, siapa tahu diperlukan’

Lalu mental pun dibuat lelah

Karena semua pekerjaan tak berujung selesai dan memuaskan

 

 

Semua keputusan tak membuat diri menjadi manusia

Padahal aku sudah sekuat tenaga memanusiakan diri

Aku terlalu merasa lelah jika mengingatnya

Terlalu gigih tanpa pencapaian

Semua tak berdasarkan proses

Melainkan hasil untuk nilai pencapaian

 

 

Hingga terkadang merasa direndahkan oleh keadaan

Sebenarnya tak ada yang merendahkan

Namun mengapa orang lain sampai pada tujuannya?

Sedangkan aku tetap pada jalan biasa bahkan buntu

 

 

Sampai suatu hari aku mengkhawatirkan diriku

Mengkhawatirkan masa depanku

Yang belum pernah menjadi apa-apa dan menjadi siapa-siapa

Jika disejajarkan dengan mereka

 

 

Semakin disamakan, semakin diposisikan

Dengan orang-orang ternyata semakin tertinggal

Semakin tak mengenal diri sendiri

Karena itu hanya dipenuhi nafsu dan ambisi semata

Tanpa bertanya ‘bisa apa diri ini, untuk apa dan siapa?’

 

 

Ternyata bertautnya pikiranku menyadarkan

Bahwa semua tak harus berhasil

Semua tak harus sempurna

Semua tak harus menghasilkan

Semua tak harus bernilai

Semua tak harus terlihat oleh orang lain

 

 

Kenyataannya aku dan mereka memiliki proses

Memiliki komitmen dan prioritas yang berbeda

Memiliki latar yang tak sama

Berlandaskan tujuan yang beda

Maka terlalu naif untuk terlihat hebat bersama

 

 

Lalu soal mengkhawatirkan masa depan

Ternyata untuk apa hanya dikhawatirkan?

Padahal mempersiapkan hari ini pun akan menyusun masa depan

Padahal pengalaman pun menjadi guru terbaik di masa depan

Padahal segala kesulitan kemarin pun menguatkan di masa depan

Bahkan yang dilupakan, padahal ada Allah yang tak pernah ingkar janji

 

 

Disadarkan oleh keadaan

Bahwa mengkhawatirkan rezeki hari esok saja

Sudah hampir mencederai rasa ‘keimanan’ kita

Lalu bagaimana tentang masa depan?

Ternyata masih banyak waktu

Untuk mempersiapkan serta berdoa kepadaNya

Yakin bahwa semua sudah di rancang oleh pembuat skenario terbaik

 

 

Lalu, kalau saja kita bisa mengubah keinginan kita

Untuk mendapatkan sesuatu,

Lantas mengapa masih ragu bahwa Allah bisa mengubah nasib kita?

 

 

Yakinlah aku dan kamu hebat dengan cara hebat yang tak sama

Mari nikmati proses kesulitan dan kemudahan hingga nanti

Bertahanlah untuk lebih lama lagi

Dan siapa pun kita yang sedang memulai, bertahan, berjuang dan menahan sesuatu apa pun yang baik bagimu semoga dikuatkan.

 

 

Hebat yang tak sama,

Dhea Fathiyyah Nahdah

#HimaBK2021

#KabinetProgresif

#BersamaMelangkahMaju

08.05 Karya Tulis 0

Post details

Leave a Reply

Social