Jadilah Kamu Hamba yang “Terjaga dalam Percaya”

Ini tentang kamu

Kamu, yang hidup dalam naungan penciptamu. Percayalah, takkan kamu temui wujud baikmu, jika bukan karena baiknya Tuhanmu. Kamu, dengan bahagiamu hari ini. Kamu, dengan sakitmu esok hari. Adalah seperangkat cinta dan kasih yang Tuhan gariskan dalam sebuah ketetapan yang kemudian kita sebut dengan ‘takdir’.

Teruntuk para “Kamu” yang sedang berada di atas awan, terbang bersama perasaan senang. Selamat, karena bagi manusia, tiada yang lebih indah daripada kalimat “Gayung Bersambut”. Harapmu bertemu dengan kabul. Inginmu berjumpa dengan dapat. Silahkan terbang bersama rasa syukur yang selaras dengan rasa senang. Jangan lupa untuk mempersiapkan diri pada posisi lain.

Teruntuk para “Kamu” yang sedang dirundung pilu, dikerumuni rasa sakit. Bertahanlah! Tiada kalimat “Gayung Bersambut” bagimu, tapi ada janji untuk kesabaranmu. Janji tentang pelangi yang datang setelah hujan. Mungkin ini tidak banyak membantu kecuali bagi para “Kamu” yang terjaga hatinya dalam percaya. Persiapkan dirimu untuk wujud nyata dari ayat ini, “Inna ma’al ‘usri yusro”, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Ucapkan sampai berjumpa dengan keadaan yang Tuhan janjikan.

Ini tentang mereka

Mereka, selalu terlihat lebih beruntung. Saat ingin, mereka dapat. Saat rindu mereka temu. Saat ada harap mereka disandingkan dengan kabul. Semudah itu?

Sepertinya sempurna, tak ada celah dalam menjalani perannya sebagai “Mereka”. Apakah keadilan wujudnya memang seperti ini? Berat di “Aku” dan ringan di “Mereka”? Rasa-rasanya seperti ada yang salah namun entah siapa yang harus disalahkan. Seringkali begitu, yang muncul hanyalah kalimat-kalimat betapa kasihannya diri ini, betapa beruntungnya mereka, dan betapa inginnya diri ini menjadi mereka.

Ini tentang pertanyaan, “lebih baik jadi siapa?”

Menjadi para “Kamu” yang dibebankan rasa sakit? Atau menjadi para “Kamu” yang diuji dengan rasa senang? Ternyata keduanya sama berat dan sama ringan. Para “Kamu” yang dipertemukan dengan ketidaksesuaian harus menyelaraskan sakit dengan sabar, dan para “Kamu” yang dipertemukan dengan kesesuaian harus menyelaraskan senang dengan syukur.

Tiada kalimat “gara-gara sesuatu” atas segala yang terjadi di sepanjang perjalanan. Semua terjadi seolah sebagai sebuah kebetulan, nyatanya hal itu sudah menjadi suatu ketetapan.

 

Memang, terkadang “Kebetulan” mendatangkan sesuatu yang dahsyat dan susah dicerna akal manusia.

(Novel Titian Nabi)

 

“Untung jadi aku, yang diberikan kemudahan dalam segala urusan”

“Untung jadi aku, yang banyak diberikan ujian sebagai jalan untuk lebih mendekat kepada Tuhan”

 

Terlalu banyak kisah kebetulan yang menghasilkan skenario panjang. Kebetulan yang rasanya menyenangkan atau malah seolah menyakitkan adalah sebuah ketetapan yang Tuhan bungkus dengan sebuah kejutan. Menyenangkan atau menyakitkan harusnya tetap membelajarkan. Belajar kuat dari beratnya beban, belajar merendah dari ringannya tanggungan. Menjadi siapapun kamu, belajar adalah suatu keharusan.

Belajarlah untuk menjadi hamba yang “terjaga dalam percaya”. Menjaga prasangka baik pada Tuhan bahkan dalam ketetapan yang menyakitkan. Menjaga keyakinan pada suatu keberhasilan bahkan untuk yang sifatnya masih kemungkinan. Karena peluang sembuh ada bagi mereka yang terjaga prasangka baiknya meskipun dalam kondisi sulit, dan peluang menang ada bagi mereka yang terjaga percayanya meskipun dalam kondisi yang menjauhi pengharapan.

24.07 Karya Tulis 0

Post details

Leave a Reply

Social