Katanya …

Katanya…

Katanya, menjadi aktivis dan akademisi adalah dua jalan yang sangat berbeda. Katanya, kita gak mungkin jadi keduanya. Masa sih, kita gak bisa jadi keduanya?

Menurutku, pernyataan di atas tadi hanya membatasi kemampuan diri, memberi kita alasan, dan pewajaran ketika kita gak mencoba mengembangkan seluruhnya. Bahkan dengan pernyataan tersebut bisa menurunkan semangat kita untuk mengembangkan diri. Bukankah kampus adalah sebagai wadah pengembangan untuk kita? Kalau begitu, sudah seharusnya kita memanfaatkan segala fasilitas serta waktu yang ada untuk mempelajari berbagai hal baru yang kita senangi.

Tapi, gimana kalau gagal? Coba lagi! Kalian pasti ingatkan teori trial and error dari behaviorist terkenal Thorndike? Yap, sebelum seseorang berhasil menguasai suatu hal dengan baik maka seringkali ia dihadapkan pada kesalahan-kesalahan. Secara bertahap kita akan mengetahui bagaimana cara menyelesaikan sesuatu dengan cara yang terbaik dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Ingat juga bahwa orang yang sukses itu jatuhnya 99 kali, tapi bangkitnya 100 kali.

Nah, gimana sih caranya menjadi aktivis sekaligus akademisi? Aku akan berbagi menurut pengalaman pribadiku, ya!

Pertama, tentukan goals! Hal ini penting, karena ketika kita mempunyai goals maka kita tahu ke arah mana harus melangkah. Goals ini akan mengingatkan kita untuk menuju ke tempat yang kita inginkan. Bayangkan jika kita tidak memiliki goals, maka kita akan stuck di satu tempat.

Kedua, rutin membuat to-do list. To-do list itu berisi daftar kegiatan apa yang harus diselesaikan dan diurutkan berdasarkan prioritas. Jadi, kita akan tahu mana kegiatan yang bisa mendorong kita untuk lebih produktif dan tentunya dengan cara ini akan membantu untuk bisa fokus pada kegiatan kita.

Ketiga, terapkan reward and punishment. Tujuan adanya reward ini agar kita dapat terus terpacu untuk berprestasi dan juga merupakan penghargaan bagi diri kita karena telah berjuang. Sedangkan punishment diberlakukan agar kita dapat jera ketika kita melakukan hal yang dapat merugikan diri kita sendiri.

Keempat, cari lingkungan yang positif! Dukungan dari keluarga dan teman-teman itu perlu loh. Ketika kita down atau sedang lelah, kita perlu dukungan dari lingkungan kita. Oleh karena itu, carilah lingkungan yang bisa mendukungmu untuk terus berkembang ya!

Last but not least, kita harus berdoa dan serahkan semuanya pada Tuhan! Terkadang kita sudah mencoba ini itu, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Maka berserah diri pada Tuhan ini adalah hal yang sangat penting. Kita semua tahu, jalan dari Tuhan adalah jalan terbaik, kan?

Kita semua sama. Kita semua memiliki kesempatan yang sama. Kesempatan untuk menjadi aktivis maupun akademisi yang berprestasi. Pada akhirnya, aktivisme dan akademik bukan merupakan pilihan bagi seorang mahasiswa, tetapi kewajiban yang harus diseimbangkan.

 

Firra Citra Ayu Rohimat,

Mahasiswa Berprestasi Bimbingan dan Konseling FIP UPI.

08.06 Tips and Trick 0

Post details

Leave a Reply

Social