Organisasi Aktif, Akademik Prestatif. Why not?

Oleh :

Adnan Rais (PPB 2014)

 

Bagi sebagian mahasiswa yang sedang menempuh bangku perkuliahan, terutama mahasiswa baru, barangkali pernah muncul pertanyaan dalam dirinya “kalau saya aktif berorganisasi di kampus, bakal ganggu akademik gak ya?”, “Aduh, minat ikut HIMA tapi bakal sering bolos kuliah gak ya?”, “DPM kayaknya seru nih, tapi bakal banyak rapat gak ya?”, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang dilematis. Keraguan semacam itu dapat muncul karena kita memandang aktivitas ‘akademik’ dan ‘organisasi’ adalah dua kutub yang berlawanan. Seringkali kita beranggapan bahwa jika aktif organisasi, maka akademik akan terbengkalai. Sebaliknya, jika kita ingin akademik baik, maka tidak perlu aktif di organisasi.

 

Menanggapi hal itu, jelas saya akan mengatakan bahwa pandangan semacam itu salah besar. Kita sendiri yang telah keliru menjadikan akademik dan organisasi sebagai dua kutub yang berlawanan. Tidak jarang pandangan tersebut dijadikan ‘rasionalisasi’ bagi mereka yang aktif organisasi namun akademiknya kurang baik, maupun bagi mereka yang tidak terlibat organisasi manapun karena katanya ingin fokus di akademik.

 

Seperti judul yang saya tulis diatas, jika kita aktif berorganisasi tapi tetap berprestasi di akademik, kenapa tidak?. Kita sangat bisa menyeimbangkan keduanya, menjalani keduanya secara beriringan. Akademik adalah prioritas kita sebagai seorang pengembara ilmu, namun organisasi tak kalah pentingnya.

 

Pada tahun 2014 yang lalu, saya adalah salah satu dari 111 mahasiswa baru yang diberikan kesempatan untuk melanjutkan belajar di perguruan tinggi negeri, tepatnya di Departemen PPB UPI. Bagi seorang mahasiswa baru, tentu banyak hal yang menarik perhatian saya untuk ditelusuri dan dijadikan sebagai wahana pengembangan diri. Berbekal pengalaman organisasi di SMK, saya pun memutuskan untuk melanjutkan aktif berorganisasi di kampus.

 

Masa-masa pengkaderan tingkat departemen (Moska) adalah gerbang pertama yang semakin memantapkan diri saya untuk menjadi seorang aktivis mahasiswa. Saat itu, saya diberikan kepercayaan oleh teman-teman untuk menjadi ketua kelompok Eric Berne dan sekaligus ketua angkatan PPB 2014. Beberapa bulan selanjutnya saya mendaftarkan diri dan kemudian diterima menjadi salah satu pengurus HIMA BK 2015 bidang PSDO. Di tingkat kampus, saya pun ikut terlibat dan menjadi pengurus di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) BAQI UPI tahun 2015. Satu tahun periode organisasi berlalu, saya mencalonkan diri dan terpilih menjadi ketua HIMA BK periode 2016. Pada tahun yang sama, saya dipercaya menjadi ketua Pengurus Pusat IMABKIN tahun 2016-2018. Selanjutnya pada akhir kepengurusan sebagai ketua HIMA BK, saya dipercaya menjadi Menteri Pendidikan BEM REMA UPI 2017.

 

Dari urutan singkat perjalanan organisasi saya selama di kampus tersebut, dapat terlihat bahwa saya tidak menjalani kehidupan akademik kampus selain membersamainya dengan kesibukan di organisasi. Bagi saya, organisasi adalah laboratorium pengembangan diri untuk mengasah softskills yang tidak kita dapatkan di ruang kelas. Melalui organisasi kita dapat belajar bekerjasama dalam tim, menyampaikan ide/gagasan (komunikasi), memecahkan masalah, kepemimpinan, manajemen waktu dan keterampilan/softskills lainnya. Maka dari itu, bagi saya, tidak ada alasan untuk tidak berkecimpung dalam aktivitas organisasi.

 

Bagaimana cara membagi waktu antara kesibukan di organisasi dengan tugas-tugas akademik?

 

Pertama, saya selalu mengusahakan untuk membuat daftar aktivitas harian yang disusun berdasarkan skala prioritas. Dalam skala prioritas, kita mengenal pembagian keperluan berdasarkan urutan : (1) penting dan mendesak, (2) penting, tidak mendesak, (3) tidak penting, mendesak, dan (4) tidak penting dan tidak mendesak. Kebiasaan baik seperti ini, akan membantu kita untuk lebih fokus pada hal-hal yang produktif dan mengurangi kebiasaan berlama-lama dengan aktivitas yang tidak penting dan tidak mendesak. Jika tidak sempat menulis di dalam buku, bisa manfaatkan handphone kita dengan memakai aplikasi Notes. Itu pula yang saya lakukan.

 

Kedua, adakalanya skala prioritas yang sudah kita susun mengalami perubahan, disebabkan ada hal-hal yang diluar dugaan. Jika mengalami hal tersebut, maka konsekuensinya kita harus meluangkan waktu lebih banyak untuk menyelesaikan daftar aktivitas yang belum kita selesaikan. Saya selalu mengistilahkan poin kedua ini dengan kata ‘pengorbanan’. Menjalani aktivitas organisasi dan akademik sekaligus, bukanlah pekerjaan yang mudah bagi seorang mahasiswa. Tentu banyak hal yang akan kita korbankan, baik berupa waktu, tenaga maupun fikiran. Tapi percayalah bahwa kita sedang berada satu langkah lebih depan dibandingkan teman-teman yang lain. Di saat teman-teman yang lain sedang menghabiskan waktu nonton ke bioskop misalnya, sementara kita masih berkutat dengan amanah organisasi, tak perlulah kita merasa iri. Tidak pernah ada kebaikan yang sia-sia. Saat itu, kamu sedang mempersiapkan bekal terbaik dengan selalu berada pada lingkaran kesibukan yang produktif. Sibuk bermanfaat. Di kemudian hari, kalian akan berterima kasih kepada diri sendiri karena sudah pernah bertahan dalam menempa diri dan saat itu kalian sedang merasakan manisnya perjuangan di masa lalu.

 

Ketiga, temukanlah satu motivasi besar yang akan mendorong diri kamu untuk dapat berprestasi di akademik, sekalipun aktif di organisasi. Pada tahun pertama kuliah, seringkali saya mendengar stigma negatif yang dilabelkan kepada para aktivis mahasiswa. Ada yang mengatakan bahwa seorang aktivis mahasiswa biasanya akademiknya terbengkalai. Ada juga yang mengatakan bahwa seorang aktivis organisasi biasanya lulus kuliah akan telat. Saya tidak menyalahkan anggapan tersebut, justru berterima kasih kepada semua orang yang telah mengingatkan dan mewanti-wanti agar saya tidak seperti itu. Sejak saat itulah saya bertekad dalam diri dan sangat termotivasi untuk untuk menghilangkan stigma negatif tersebut. Sangat besar keinginan untuk membuktikan bahwa aktivis organisasi pun tetap bisa berprestasi di akademik.

 

Semester demi semester berlalu, indeks prestasi yang saya capai ternyata tetap terjaga sekalipun sedang memegang amanah organisasi. Waktu pun terus berlalu, hingga pada akhir tahun 2018, secara resmi saya demisioner dari semua amanah organisasi, sekaligus demisioner dari status mahasiswa PPB UPI. Alhamdulillah, terhitung saya dapat lulus dengan waktu 4 tahun pas, mendapat predikat cumlaude, dan menjadi wisudawan terbaik tingkat departemen PPB UPI.

 

Semua itu bisa saya capai, beberapa diantaranya karena melaksanakan tiga poin yang telah saya paparkan di tulisan ini. Jika saya bisa, pasti pembaca sekalian pun bisa. Bantu saya dengan melanjutkan perjuangan untuk menghapus stigma negatif tersebut dari kampus. Saya yakin banyak diantara adik-adik tingkat yang mampu lebih meyakinkan publik bahwa aktivis organisasi tetap bisa berprestasi di kampus. Semangat!

Terima kasih. Semoga bermanfaat.

Tentang Penulis:

Aktivitas penulis saat ini sebagai tenaga Bimbingan dan Konseling di Al Kausar Boarding School, Sukabumi.
Untuk diskusi lebih lanjut, silahkan hubungi email : adnanrais17@gmail.com

14.02 Pengalaman Organisasi 0

Post details

Leave a Reply

Social