Sedikit Kontribusi untuk Desa Mola Nelayan Bhakti oleh Fairuz Rizka

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, halo teman-teman semua! Perkenalkan nama saya Fairuz Rizka dari angkatan 2019. Alhamdulillah kali ini saya diberi kesempatan untuk menceritakan sedikit pengalaman saya saat mengikuti kegiatan volunteer di Wakatobi, Sulawesi Tenggara bulan Agustus kemarin.

 

Sedikit informasi, kegiatan volunteer ini diadakan oleh salah satu NGO yaitu Indonesia Dedication and Empowerment (IDE) dengan nama program Ekspedisi Sahabat Bahari 2021 (ESB 2021). Setelah mengikuti beberapa proses seleksi, alhamdulillah saya terpilih sebagai salah satu delegasi yang berangkat ke Wakatobi lebih tepatnya ke Desa Mola Nelayan Bhakti. Program tersebut berlangsung kurang lebih sepuluh hari dari tanggal 12-22 Agustus. Menurut penuturan camat Wangi-Wangi Selatan, Desa Mola Nelayan Bhakti termasuk dalam daerah Mola Raya. Mola Raya sendiri terdiri dari 5 desa yaitu Desa Mola Selatan, Desa Mola Nelayan Bhakti, Desa Mola Samaturu, Desa Mola Utara dan Desa Mola Bahari. Sebagian besar masyarakat Mola Raya merupakan orang Suku Bajo. Disana saya tergabung dalam divisi pendidikan bersama 8 orang-orang hebat lainnya. Sesuai namanya, divisi kami fokus ke permasalahan pendidikan yang ada di Desa Mola Nelayan Bhakti.

 

_DSC0665

Anggota Divisi Pendidikan

Sebelum kami berangkat ke lokasi pengabdian, terlebih dahulu kami mengadakan virtual meeting untuk membahas beberapa hal, seperti pemilihan koordinator umum, pemilihan koordinator divisi, pemaparan lokasi pengabdian oleh local hero dan yang paling penting perumusan program kerja yang akan dilakukan oleh masing-masing divisi dibimbing oleh fasilitator yang berbakat di bidangnya (selain divisi pendidikan terdapat 3 divisi lainnya seperti divisi ekowisata, divisi lingkungan dan divisi kesehatan). Kurang lebih kami merancang program kerja divisi pendidikan dalam kurun waktu 2 bulan.

 

2 bulan berlalu, tibalah waktu keberangkatan, karena titik kumpul yang disediakan oleh panitia berada di Surabaya, jadi saya harus berangkat sejak tanggal 11 Agustus dari Bandung-Surabaya kurang lebih perjalanan selama 10 jam. Saya tidak berangkat sendiri, delegasi lain yang juga berdomisili di Bandung janjian untuk berangkat bersama dari Stasiun Bandung. Kami berangkat dari Stasiun Bandung jam 8 pagi dan tiba di Surabaya jam 7 malam. Tibalah kami di Surabaya dengan bawaan pribadi kami dan beberapa barang donasi seperti baju bekas layak pakai, buku bekas layak baca, dan juga alat medis. Kami menginap satu hari di Surabaya, lalu keesokan harinya kami berangkat ke pelabuhan Tanjung Merak untuk melanjutkan perjalanan dengan kapal. Setelah 3 hari 2 malam di atas kapal tanpa jaringan, tibalah kapal kami di pelabuhan Makassar untuk transit. Lalu, kapal kami melanjutkan perjalanan ke Bau-Bau kurang lebih sehari semalam. Jam 3 subuh, kami tiba di Pelabuhan di Bau-bau yaitu pelabuhan Murhum, kami melanjutkan perjalanan naik bus kurang lebih 4 jam ke pelabuhan di daerah Lasalimu. Dari sana, kami naik kapal lagi ke pelabuhan Wanci, perjalanan 3 jam ini cukup menegangkan bagi kami karena ombak bulan Agustus yang lumayan tinggi. Lalu, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Mola Nelayan Bhakti dengan mobil kurang lebih 30 menit.

 

Hari pertama di Desa Mola Nelayan Bhakti, terlebih dahulu seluruh delegasi melakukan social mapping yaitu melihat lokasi kegiatan yang akan digunakan oleh masing-masing divisi contohnya divisi kesehatan melihat keadaan puskesmas atatu divisi pendidikan melihat kondisi taman baca dan sekolah yang ada di sana. Social mapping juga sebuah kegiatan yang berfungsi agar delegasi dapat melakukan pendekatan ke warga desa. Hari-hari selanjutnya, tiap divisi telah berpencar dan fokus menjalankan program kerja masing-masing.

 

Salah satu lokasi kegiatan divisi pendidikan adalah MI Mola Selatan dan MAN 1 Muhammadiyah, disana kami mengadakan Kelas Inspirasi, program kerja ini kami rancang berdasarkan permasalahan pendidikan yang ada yaitu tingginya angka putus sekolah. Setelah lulus dari SMP banyak anak-anak di sana yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya, mereka memilih untuk bekerja membantu orang tuanya menjadi nelayan. Maka dari itu, kami merancang program tersebut dengan harapan anak-anak termotivasi untuk melanjutkan pendidikannya juga semangat belajar mereka. Program kerja lainnya adalah sosialisasi kepada orang tua tentang pentingnya pendidikan, selain memberikan dorongan kepada anak-anak, kami juga memberikan penguatan kepada orang tua agar ikut membantu dan mendorong anaknya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lewat pemberian informasi bahwa pendidikan itu sangat penting untuk anak-anak, bahwan dengan pendidikan anak akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dibanding bekerja terlebih dahulu. Selama menjalankan program kerja, salah satu hambatan yang kami dapatkan adalah perbedaan bahasa antara kami dengan warga Mola khususnya ketika berbicara kepada anak-anak disana, karena pada kesehariannya mereka menggunakan Bahasa Bajo yang mana Bahasa tersebut baik dari kosa kata dan logat sangat jauh berbeda dengan Bahasa Indonesia. Namun, kami tetap berusahan untuk berkomukasi dengan baik dengan mereka dengan cara berbicara secara perlahan dan sedikit-sedikit mempelajari Bahasa Bajo.

 

_DSC1003     _DSC0158

 

Pengalaman tak terlupakan lainnya adalah perayaan 17 Agustus. Telah menjadi tradisi masyarakat Bajo untuk mengadakan upacara diatas kapal dan ditengah-tengah pulau yang berpasir putih. Seluruh aparat desa juga warga turut mengikuti upacara dengan khidmat. Walaupun cuaca disana sangat panas dan terik, namun tidak menyurutkan semangat semua orang.

 

DSC_0823 DSC_0479

10 hari di Desa Mola Nelayan Bhakti adalah momen-momen yang penuh pelajaran bagi saya. Mungkin apa yang terlihat adalah divisi kami yang memberikan pelajaran dan mengajarkan anak-anak disana, namun saya merasa saya lah yang diberikan pelajaran oleh mereka.


Dari anak-anak Mola, saya mengerti bahwa syukur adalah segalanya, bahwa apa yang diberikan oleh Tuhan adalah lebih dari cukup, bahwa apa yang disediakan oleh alam adalah hal yang harus dijaga.

 

Dari anak-anak Mola, saya paham bahwa sebuah senyuman dapat meruntuhkan perbedaan budaya, renyahan tawa dapat mengalahkan perbedaan bahasa dan tatapan mata dapat menyampaikan pesan yang dalam

 

Ya, dari anak-anak Mola, saya banyak belajar.

24.12 Karya Tulis, Pengalaman Pribadi 0

Post details

Leave a Reply

Social