Teropong Bintang

Halo, semua!👋 Aku Salsabilla Shafa Adzra Darmawan dari BK-B 2020 dan aku mau cerita.

 

Dulu, di rumahku ada teropong bintang. Sebenarnya kami tidak memiliki satu pun anggota keluarga berlatar belakang keilmuan astronomi. Aku juga bingung, kenapa teropong itu ada di rumah? Toh, kami juga enggak ngerti apa-apa. Di hari pertama teropong itu datang, kami langsung sok tahu dan menguji coba cara kerja benda ini. Hari itu sangat berawan. Butuh kesabaran ekstra untuk mendapatkan waktu yang tepat. Namun, saat itu kami juga belum paham, tepat untuk melihat apa? Sampai akhirnya Ayah berteriak.

 

“Hua!”

 

“Kenapa?” tanyaku.

 

“Tadi bulannya kelihatan!” Ayah dalam kondisi yang tidak bisa aku definisikan saat itu. Entah ia sedang senang atau ketakutan.

 

“Terus?”

 

“Bentuknya jelek banget!”

 

Aku protes. Pertama, karena Ayah berteriak dan aku ini mudah kaget. Kedua, benda ini namanya teropong bintang! Bukan teropong bulan! Ketiga, bulan itu enggak ada dosa apa-apa, kenapa dikatain jelek?!

 

Aku memutuskan untuk tidak mengajak Ayah di malam berikutnya. Awalnya aku ikut penasaran bagaimana bentuk bulan yang Ayah lihat kemarin (ternyata aku teriak juga melihatnya). Lama kelamaan, aku ingin benda ini berfungsi sebagaimana namanya, teropong bintang. Jadi malam itu, aku hanya memperhatikan bintang. Sayangnya aku mau protes lagi, bintangnya enggak bisa terlihat sejelas bentuk dan tekstur bulan yang menyeramkan itu. Kalau aku boleh request, teropong itu ganti saja namanya menjadi teropong bulan.

 

Menyadari bahwa teropong bintang abal-abalku ini tidak bisa memenuhi rasa penasaranku tentang benda langit itu, aku memutuskan untuk mempelajarinya sendiri dengan mesin pencari. Ada satu fakta mengenai bintang yang akhirnya ku ketahui. Ternyata selama ini aku sedang melihat masa lalu. Bahkan si bulan menyeramkan itupun, datang dari masa lalu. Begitu juga matahari, yang mana ternyata matahari itu bintang dan lagi-lagi datang dari masa lalu. Kalian pusing gak, sih?

 

Di alam semesta yang luasnya aku juga tidak tahu, yang pasti luas, cahaya ternyata butuh waktu sangat lama untuk sampai ke bumi. Bulan yang kita lihat sekarang adalah bulan satu detik lalu. Matahari yang kita lihat sekarang adalah matahari delapan detik  lalu. Bintang terdekat di luar tata surya kita yang mungkin pernah terlihat di bumi, proxima centauri, adalah bintang 4,3 tahun lalu. Kalau begitu, bisa saja bintang proxima centauri hari ini sedang mengirimkan cahayanya untuk 4,3 tahun mendatang. Matahari detik ini sedang mengirimkan cahayanya untuk delapan detik mendatang. Bulan detik ini sedang mengirimkan cahayanya untuk satu detik mendatang. Kalian pusing gak sih?

 

Namun, wow.

 

Lihat bagaimana cara semesta menjelaskan bahwa masa depan itu pasti dan masa lalu serta kini tentu akan bergantung kepadanya. Aku sadar, banyak dari teman-temanku di sini yang mulai khawatir dengan masa depan. Kita menyadari dan mungkin sebagian kecilnya menyesali bagaimana pengaruh dari masa lalu terhadap masa sekarang. Seiring bertambahnya usia, banyak kekhawatiran dan penyesalan yang kita pikirkan. Namun, hanya kita yang punya kuasa tentang bagaimana diri ini menghadapi kekhawatiran dan penyesalan itu. Aku harap, teman-temanku yang juga sedang merasakan hal ini bisa mengambil hal positif dari apa yang ku ceritakan.

 

Aku harap, teman-teman bisa merasa sangat bersyukur dan berterima kasih kepada masa lalu. Terima kasih sudah membuat kita menjadi diri yang sekarang. Waktunya pasti lama. Di beberapa kesempatan, mungkin kita enggak sabar untuk melihat apa hasil dari yang kita di masa lalu usahakan. Pada akhirnya, kita menjadi diri yang sekarang, dan semoga kita berpuas diri serta sangat berterima kasih untuk itu.

 

Semoga setiap harinya, kita senantiasa mengirimkan cahaya untuk diri di masa depan. Cahayanya bisa dimanifestasikan dalam bentuk apapun. Mungkin dengan mulai mencicil tugas, mengerjakan artikel, atau apapun yang bisa membuat kita “bercahaya”. Aku pribadi enggak tahu, cahaya yang sedang kukirimkan ini akan sampai di tahun berapa. Aku juga enggak akan bohong, aku khawatir soal masa depan. Aku khawatir aku di masa sekarang kecewa dengan aku di masa depan. Aku juga khawatir aku di masa depan menyesali apa yang aku di masa sekarang kerjakan. Kalian pusing gak, sih?

 

Namun, lagi-lagi aku percaya bahwa masa depan itu pasti dan masa lalu serta kini tentu akan bergantung kepadanya. Semoga kalian percaya hal itu juga.😉

08.06 Karya Tulis, Pengalaman Pribadi 0

Post details

Leave a Reply

Social